Ada beberapa cerita / kisah yang menceritakan mengenai asal usul kota Balikpapan. Asal usul tersebut seperti berikut ini:

Sultan Kutai meminta 1.000 keping papan untuk pembangunan Istana Baru Kutai Lama dan ada 10 keping papan yang kembali ke jenebora dari 1.000 papan tersebut. Kesepuluh papan yang kembali tersebut disebut oleh orang Kutai  Balikpapan Tu. Sehingga wilayah sepanjang Teluk Balikpapan, tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan.

Suku Pasir Balik (suku asli balikpapan) merupakan keturunan asli dari kakek dan nenek yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang Teluk Balikpapan disebut Kuleng-Papan (dalam bahasa Paser artinya Balik) oleh para keturunannya.

Dalam kisah lainnya juga, yaitu Seorang putri yang dilepas oleh ayahnya yang seorang raja, agar putrinya tidak jatuh ke tangan musuh. Sang putri yang masih balita tersebut diikat diatas beberapa keping papan dengan keadaan berbaring. Karena diterjang ombak akhirnya papan tersebut terbalik dan terdampar ditepi pantai.  Kemudian nelayan menemukan papan tersebut dan membalikannya namun ternyata dibalik papan itu ada seorang putri yang masih dalam kondisi terikat. Nama putri tersebut adalah Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir, dan tempat ditemukannya putri itu dinamakan Balikpapan.

Hari jadi kota Balikpapan pada tanggal 10 februari 1897. Penetapan tanggal tersebut adalah hasil Seminar Sejarah Balikpapan pada tanggal 1 Desember 1984. Pada tanggal 10 Februari 1897 tersebut merupakan tanggal pemboran minyak pertama di Balikpapan yang dilakukan oleh perusahaan Mathilda sebagai kerja sama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan Co.

Kesultanan Kutai

Daerah Balikpapan dan Balikpapan Seberang (Penajam) merupakan bagian dari wilayah negara dependen Kesultanan Kutai. Tahun 1942 Penajam termasuk dalam wilayah Balikpapan. Sejak sekitar tahun 1636, Kalimantan pada umumnya termasuk negara bagian Kutai, negara bagian Paser dan negara bagian Berau diklaim sebagai wilayah mandala negara Kesultanan Banjarmasin. Pada 13 Agustus 1787, Sunan Nata Alam telah menyerahkan kedaulatannya atas sebagian besar Kalimantan kepada perusahaan VOC, yang kemudian diperbarui lagi pada tanggal 4 Mei 1826 pada masa Sultan Adam.

Setelah itu Kalimantan pada umumnya menjadi wilayah negara Hindia Belanda. Tahun 1844, bekas negara bagian Kutai secara resmi mendapat pengakuan sebagai negara dependensi di dalam negara Hindia Belanda. Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, Kutai termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8 Tahun 1855, Kutai merupakan sebagian dari de zuid- en oosterafdeeling van Borneo yang beribukota di Banjarmasin.

Hindia Belanda

Dengan ditemukannya sumber-sumber minyak di daerah Balikpapan dan daerah sekitarnya (Samboja, Sanga-Sanga dan Muara Badak), pemerintah Hindia Belanda akhirnya membeli wilayah ini dari Sultan Kutai Kertanegara serta dibangun untuk mendukung usaha-usaha pertambangan khususnya perminyakan dengan mendirikan kilang minyak, kantor operasi serta perumahan pegawai (sisa-sisa usaha pembangunan Hindia Belanda dapat dilihat dari permukiman para staf Pertamina). Aktivitas perminyakan ini juga membantu perpindahan penduduk terutama para pekerja dari Jawa, serta dari berbagai daerah. Saat itu perusahaan minyak yang dikenal adalah BPM, Shell dan KPM. Wilayah Balikpapan pada tahun 1930 itu meliputi Balikpapan Seberang (Penajam).

Pendudukan Jepang

Pada masa Perang Dunia II, Jepang mengincar wilayah ini sebagai batu loncatan mengadakan serangan ke Jawa. Pada tanggal 23 Januari 1942, armada Jepang di bawah pimpinan Shizuo Sakaguchi merebut Balikpapan dari tangan pasukan Sekutu dan Hindia Belanda. Wilayah Balikpapan saat itu meliputi Balikpapan Seberang (Penajam). Nilai strategis kota Balikpapan juga diperhitungkan tentara sekutu, pada tahun 1945 tentara sekutu di bawah komando Australia merebut kota ini dari tangan Jepang pada pertempuran 26 Juni-15 Juli 1945 dalam usaha merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan Jepang.

Republik Indonesia

Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia agak terlambat sampai di kota ini, sekitar tahun 1945-1946 melalui pekerja BPM yang datang dari Jawa dalam rangka rehabilitasi kilang minyak yang hancur akibat perang yang dilanjutkan dengan pernyataan rakyat di Lapangan FONI. Namun karena Belanda berniat menguasai kembali kota ini maka terjadi peperangan yang berlanjut sampai pada pertempuran Sangatta. Pada masa pengakuan kedaulatan tahun 1949, wilayah ini diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat yang berlanjut kepada Republik Indonesia.

Source: id.wikipedia.org

Asal Usul Kota Balikpapan

Ada beberapa cerita / kisah yang menceritakan mengenai asal usul kota Balikpapan. Asal usul tersebut seperti berikut ini:

Sultan Kutai meminta 1.000 keping papan untuk pembangunan Istana Baru Kutai Lama dan ada 10 keping papan yang kembali ke jenebora dari 1.000 papan tersebut. Kesepuluh papan yang kembali tersebut disebut oleh orang Kutai  Balikpapan Tu. Sehingga wilayah sepanjang Teluk Balikpapan, tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan.

Suku Pasir Balik (suku asli balikpapan) merupakan keturunan asli dari kakek dan nenek yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang Teluk Balikpapan disebut Kuleng-Papan (dalam bahasa Paser artinya Balik) oleh para keturunannya.

Dalam kisah lainnya juga, yaitu Seorang putri yang dilepas oleh ayahnya yang seorang raja, agar putrinya tidak jatuh ke tangan musuh. Sang putri yang masih balita tersebut diikat diatas beberapa keping papan dengan keadaan berbaring. Karena diterjang ombak akhirnya papan tersebut terbalik dan terdampar ditepi pantai.  Kemudian nelayan menemukan papan tersebut dan membalikannya namun ternyata dibalik papan itu ada seorang putri yang masih dalam kondisi terikat. Nama putri tersebut adalah Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir, dan tempat ditemukannya putri itu dinamakan Balikpapan.

Hari jadi kota Balikpapan pada tanggal 10 februari 1897. Penetapan tanggal tersebut adalah hasil Seminar Sejarah Balikpapan pada tanggal 1 Desember 1984. Pada tanggal 10 Februari 1897 tersebut merupakan tanggal pemboran minyak pertama di Balikpapan yang dilakukan oleh perusahaan Mathilda sebagai kerja sama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan Co.

Kesultanan Kutai

Daerah Balikpapan dan Balikpapan Seberang (Penajam) merupakan bagian dari wilayah negara dependen Kesultanan Kutai. Tahun 1942 Penajam termasuk dalam wilayah Balikpapan. Sejak sekitar tahun 1636, Kalimantan pada umumnya termasuk negara bagian Kutai, negara bagian Paser dan negara bagian Berau diklaim sebagai wilayah mandala negara Kesultanan Banjarmasin. Pada 13 Agustus 1787, Sunan Nata Alam telah menyerahkan kedaulatannya atas sebagian besar Kalimantan kepada perusahaan VOC, yang kemudian diperbarui lagi pada tanggal 4 Mei 1826 pada masa Sultan Adam.

Setelah itu Kalimantan pada umumnya menjadi wilayah negara Hindia Belanda. Tahun 1844, bekas negara bagian Kutai secara resmi mendapat pengakuan sebagai negara dependensi di dalam negara Hindia Belanda. Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, Kutai termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8 Tahun 1855, Kutai merupakan sebagian dari de zuid- en oosterafdeeling van Borneo yang beribukota di Banjarmasin.

Hindia Belanda

Dengan ditemukannya sumber-sumber minyak di daerah Balikpapan dan daerah sekitarnya (Samboja, Sanga-Sanga dan Muara Badak), pemerintah Hindia Belanda akhirnya membeli wilayah ini dari Sultan Kutai Kertanegara serta dibangun untuk mendukung usaha-usaha pertambangan khususnya perminyakan dengan mendirikan kilang minyak, kantor operasi serta perumahan pegawai (sisa-sisa usaha pembangunan Hindia Belanda dapat dilihat dari permukiman para staf Pertamina). Aktivitas perminyakan ini juga membantu perpindahan penduduk terutama para pekerja dari Jawa, serta dari berbagai daerah. Saat itu perusahaan minyak yang dikenal adalah BPM, Shell dan KPM. Wilayah Balikpapan pada tahun 1930 itu meliputi Balikpapan Seberang (Penajam).

Pendudukan Jepang

Pada masa Perang Dunia II, Jepang mengincar wilayah ini sebagai batu loncatan mengadakan serangan ke Jawa. Pada tanggal 23 Januari 1942, armada Jepang di bawah pimpinan Shizuo Sakaguchi merebut Balikpapan dari tangan pasukan Sekutu dan Hindia Belanda. Wilayah Balikpapan saat itu meliputi Balikpapan Seberang (Penajam). Nilai strategis kota Balikpapan juga diperhitungkan tentara sekutu, pada tahun 1945 tentara sekutu di bawah komando Australia merebut kota ini dari tangan Jepang pada pertempuran 26 Juni-15 Juli 1945 dalam usaha merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan Jepang.

Republik Indonesia

Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia agak terlambat sampai di kota ini, sekitar tahun 1945-1946 melalui pekerja BPM yang datang dari Jawa dalam rangka rehabilitasi kilang minyak yang hancur akibat perang yang dilanjutkan dengan pernyataan rakyat di Lapangan FONI. Namun karena Belanda berniat menguasai kembali kota ini maka terjadi peperangan yang berlanjut sampai pada pertempuran Sangatta. Pada masa pengakuan kedaulatan tahun 1949, wilayah ini diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat yang berlanjut kepada Republik Indonesia.

Source: id.wikipedia.org

Subscribe Our Newsletter